Menangis sebagai upaya Terapi Jiwa

AKIBAT STRESS MENIMBULKAN PENYAKIT KANKER – oleh M.Yusuf
Gelombang emosional yang cukup kuat yang menghantam pikiran, rasa takut yang berkepanjangan, cemas karena kedudukannya tergeser, khawatir tidak sukses dalam kehidupan rumah tangga, merasa gagal dalam suatu pekerjaan, selalu dibayangi rasa bersalah, terlalu mendramatisir permasalahan yang sebenarnya bukanlah persoalan, dan pengaruh psikis lainnya yang secara tajam akan bisa menciptakan stress, sangat berpotensial-memiliki resiko yang tinggi terserang kanker. Karena, dari penelitian selama bertahun-tahun telah membuktikan, bahwa stress dapat memperlemah kekebalan tubuh seseorang, serta memberikan pengaruh yang cukup hebat terhadap carcinogen –virus yang bakal merusak sel-sel lingkungan juga seakan menawarkan peluang untuk membangkitkan kelainan tubuh kita sejak lahir.

Di samping itu, kefatalan akibat stress tidak hanya berakibat tehadap penyakit kanker saja, tetapi juga merambah pada penyakit lainnya seperti radang pencernaan, pengerasan pembuluh darah arteri serta serangan jantung. Namun, ada tiga penyebab utama stress yang berada pada ranking atas atau dianggap sangat berbahaya yaitu percekcokan rumah tangga, ketidakpastian kerja, dan perasaan kehilangan.

Maka, langkah yang bijak untuk menyegarkan iklim psikis dan proses biologi agar tidak didera oleh stress yang berlarut-larut, menangislah sepuas hati. Sebab, telah dibuktikan dengan biokimia ternyata air mata merupakan hasil produksi sistem exocrine untuk menyingkirkan zat-zat yang tidak bermanfaat bagi tubuh setelah diproduksi oleh stress.

Dan kiat lain untuk menikam stress (ketegangan), bisa dilakukan dengan berteriak sekeras-kerasnya. Caranya, masukkan -benamkan- kepala kita ke dalam bak mandi, yang maksudnya supaya tidak mengeluarkan suara bising di samping teriakan itu akan lebih lepas dan puas. Ini sebagai indikator yang dianggap cukup baik pada kesehatan seseorang untuk menghindari gangguan psikomotis atau penyakit yang timbul yang diakibatkan oleh interaksi proses mental dan fisik (bukan karena organ tertentu). Berteriak dan menangis sama-sama berperan kuat untuk tidak peka terhadap penyakit yang kaitannya dengan stress.

Bahkan PM Margareth Tacher sempat berseru, “Menangis itu sehat dan obat yang paling mahal untuk melawan goncangan halusinasi yang kuat. Maka, biarkanlah air mata kalian mengalir sampai habis supaya bisa memberikan perasaan lega pada alam pikiran.”

Tacher berani berujar seperti itu, karena ia sendiri mengakui pernah melakukannya (menangis) ketika parlemen Inggris mematahkan ide –referendumnya- yang menyangkut perombakan struktur ekonomi di negara tersebut yang menyerempet peluang dominasi penanaman modal asing di negara itu.

Maka,ditarik kesimpulan betapa hebat keunggulan dari menangis sebagai upaya terapi jiwa (psykoterapi) sendiri untuk mengikis stress dan melawan kanker. Kendati pembuktian secara ilmiah ini (menangis) masih bermunculan pro dan kontra, namun kenyataannya sudah dapat bicara seperti yang pernah dikemukakan dua peneliti yaitu Dr. Wiliiam Frey dan Dr. Vincent Tuason direktur bagian psikiatri St. Paul Ramseu Medical Centre. Minesota. Dan yang dijadikan objek penelitian mereka yaitu menggelar pertunjukkan film “Brian’s Song” yang menceritakan pemain football yang mati karena digigit sel kanker. Pada saat adegan sedih itu mencapai klimaks, penonton pun ikut terhanyut dalam suasana duka dalam cerita itu, dan dengan tidak disadari mereka mencucurkan air mata. Kemudian, kedua dokter ahli itu dan sejumlah pembantunya menampung air mata mereka. Lantas, memasukkannya ke dalam tabung-tabung yang berukuran kecil.

Tahap berikutnya, kedua dokter itu membandingkan (secara biokimia) antara air mata yang keluar murni –akibat sedih dan haru- dengan air mata yang ‘dipaksa’ dengan bawang dan manipulasi salah satu zat kimia. Dan ternyata dari hasil penelitiannya itu dapat memberikan jawaban bahwa ada perbedaan protein-protein yang dikandung oleh kedua jenis air mata tersebut. Dan bagaimanapun riset kedua dokter itu dianggap sebagai pembuka era baru untuk penelitian selanjutnya.

Penyimpangan kejiwaan
Kemudian, belakangan ini wanita dijadikan sentral riset kesehatan. Karena, pada abad yang modern seperti sekarang ini, kaum hawa tidak hanya punya peran sebagai faktor pendorong saja, tapi sekaligus memiliki kapasitas sebagai faktor pendukung terhadap mekanisme – urgensi atas segala kehidupan baik yang menyangkut (berlaku) dalam lingkup keluarga maupun melebar menjadi komunitas luas.

Kondisi seperti itu, seakan memaksa mereka lebih meninggikan tingkat agresifitasnya. Maka, kecenderungan penyimpangan kejiwaan makin tebal. Gejala semacam itu karena letupan ambisi yang dahsyat. Sehingga artritis rematoid ( salah satu penyakit ketegangan ) seolah menjadi merk tersendiri bagi wanita. Padahal sebenarnya, wanita cukup terlindung oleh hormon estrogen yang secara langsung memberikan tanda bahwa wanita lebih sehat jika dibanding kaum pria. Dan perolehan stres antara wanita yang satu dengan lainnya cukup fariatif. Akibat stres yang menimpa wanita, dapat pula berakibat figriditas – dingin terhadap daya rangsang seksual, menurunnya pengeluaran air susu, dan terhadap keturunan akan retan pada kecerdasannya (IQ), atau haidpun akan menyimpang dari daur yang sebenarnya ( tidak teratur ).

Dan yang lebih sering, walaupun tidak secara umum, stres yang menimpa kaum wanita ini biasanya saat mereka menjalani masa monopouse. Ini sangat berkaitan dengan faktor spikologis yaitu lebih perasa, takut tidak diperhatikan oleh suaminya, merasa sudah tua dan tidak cantik lagi, dan lain sebagainya. Faktor seperti ini seolah ikut serta mengantarkan artritis rematoit untuk bergolak hebat. Maka akibat yang ditimbulkannya akan dijadikan inceran bagi kanker urinogenital, mammae, hepatoma dan sebagainya.

Dan menurut catatan dari hasil riset yang pernah dilakukan oleh tim Laboratorium Pathologi pada National Cancer Institute Amerika Serikat, memberikan bukti yang bisa dipertanggung jawabkan, bahwa setiap harinya bahwa tumor ganas bisa menyebarkan ribuan sel yang bersifat kanker dan dapat mengisi kedalam jumlah jutaan sel. Ini yang seakan memberikan pintu lolos dari deteksi – saat dilakukan dengan sinar X, karena anak-anak sebar ( metastatis ), terkadang sumir bahkan sama dengan cairan tubuh. Sehingga dengan sangat leluasa anak sebar tersebut merembes pada bagian tubuh yang dirasa memiliki “wilayah “ yang dianggap subur untuk pertumbuhan kanker. Tetapi ada yang berpendapat bahwa metatatis akan bertahan lima sampai sepuluh tahun hinggap pada tubuh penderita. Padahal, dalam kenyataannya hanya selang waktu beberapa bulan saja anak sebar itu singgah, si penderita sudah tak dapat ditolong lagi. Dan metastatis cenderung lebih resisten terhadap obat-obatan ketika dilakukan kemoterapi.

Kemudian, permasalahannya sekarang, kendala yang dihadapi oleh para ahli onkologi yaitu sifat agresifitas metastasis yang terlampau kuat, dalam wilayah penyebarannya yang berpindah-pindah ke organ lain.

Maka, ketika anak sebar tersebut telah memasuki jaringan mikrokospik sangatlah sulit untuk dideteksi, dan keadaan ini telah mencapai angka 50 persen saja. Selebihnya, masih memiliki metastasis yang cukup jelas dan mudah terdeteksi oleh pemeriksaan fisik dan radiologi dalam diagnosa awal. Kendati begitu, para peneliti (ahli onkologi) dalam dua dasawarsa belakangan ini sudah memperoleh nafas lega terhadap keunikan sifat-sifat metastasis tersebut.

Dan secara tegas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO-World Health Organization) pernah mengabarkan, bahw kematian yang disebabkan serangan kanker mencapai angka tiga kali lebih tinggi ketimbang terjangkit penyakit jantung dalam setiap tahunnya. Dan dari sekian jenis kanker yang masih menduduki peringkat atas yaitu kanker paru-paru. Dan angka kasar telah memperlihatkan 257.000 orang yang mengidap penyakit tersebut, hanya 60.000 penderita yang berhasil diselamatkan untuk jangka waktu sementara.

Ini layak disebut sebagai angka kesembuhan sementara yang sangat menyedihkan. Bahkan, para peneliti yang tergabung dalam National Cancer Institute AS belum bisa memberikan semacam ‘lisensi’ terhadap obat-obatan yang benar-benar paten (dalam jangka waktu lama) untuk memberantas penyakit yang selalu menghantui setiap orang atau penderita.*****************

Semua orang pasti mengalami stress, tapi janganlah dikendalikan oleh stress sebaliknya kendalikanlah stress.m pikiran, rasa takut yang berkepanjangan, cemas karena kedudukannya tergeser, khawatir tidak sukses dalam kehidupan rumah tangga, merasa gagal dalam suatu pekerjaan, selalu dibayangi rasa bersalah, terlalu mendramatisir permasalahan yang sebenarnya bukanlah persoalan, dan pengaruh psikis lainnya yang secara tajam akan bisa menciptakan stress, sangat berpotensial-memiliki resiko yang tinggi terserang kanker. Karena, dari penelitian selama bertahun-tahun telah membuktikan, bahwa stress dapat memperlemah kekebalan tubuh seseorang, serta memberikan pengaruh yang cukup hebat terhadap carcinogen –virus yang bakal merusak sel-sel lingkungan juga seakan menawarkan peluang untuk membangkitkan kelainan tubuh kita sejak lahir.

Di samping itu, kefatalan akibat stress tidak hanya berakibat tehadap penyakit kanker saja, tetapi juga merambah pada penyakit lainnya seperti radang pencernaan, pengerasan pembuluh darah arteri serta serangan jantung. Namun, ada tiga penyebab utama stress yang berada pada ranking atas atau dianggap sangat berbahaya yaitu percekcokan rumah tangga, ketidakpastian kerja, dan perasaan kehilangan.

Maka, langkah yang bijak untuk menyegarkan iklim psikis dan proses biologi agar tidak didera oleh stress yang berlarut-larut, menangislah sepuas hati. Sebab, telah dibuktikan dengan biokimia ternyata air mata merupakan hasil produksi sistem exocrine untuk menyingkirkan zat-zat yang tidak bermanfaat bagi tubuh setelah diproduksi oleh stress.

Dan kiat lain untuk menikam stress (ketegangan), bisa dilakukan dengan berteriak sekeras-kerasnya. Caranya, masukkan -benamkan- kepala kita ke dalam bak mandi, yang maksudnya supaya tidak mengeluarkan suara bising di samping teriakan itu akan lebih lepas dan puas. Ini sebagai indikator yang dianggap cukup baik pada kesehatan seseorang untuk menghindari gangguan psikomotis atau penyakit yang timbul yang diakibatkan oleh interaksi proses mental dan fisik (bukan karena organ tertentu). Berteriak dan menangis sama-sama berperan kuat untuk tidak peka terhadap penyakit yang kaitannya dengan stress.

Bahkan PM Margareth Tacher sempat berseru, “Menangis itu sehat dan obat yang paling mahal untuk melawan goncangan halusinasi yang kuat. Maka, biarkanlah air mata kalian mengalir sampai habis supaya bisa memberikan perasaan lega pada alam pikiran.”

Tacher berani berujar seperti itu, karena ia sendiri mengakui pernah melakukannya (menangis) ketika parlemen Inggris mematahkan ide –referendumnya- yang menyangkut perombakan struktur ekonomi di negara tersebut yang menyerempet peluang dominasi penanaman modal asing di negara itu.

Maka,ditarik kesimpulan betapa hebat keunggulan dari menangis sebagai upaya terapi jiwa (psykoterapi) sendiri untuk mengikis stress dan melawan kanker. Kendati pembuktian secara ilmiah ini (menangis) masih bermunculan pro dan kontra, namun kenyataannya sudah dapat bicara seperti yang pernah dikemukakan dua peneliti yaitu Dr. Wiliiam Frey dan Dr. Vincent Tuason direktur bagian psikiatri St. Paul Ramseu Medical Centre. Minesota. Dan yang dijadikan objek penelitian mereka yaitu menggelar pertunjukkan film “Brian’s Song” yang menceritakan pemain football yang mati karena digigit sel kanker. Pada saat adegan sedih itu mencapai klimaks, penonton pun ikut terhanyut dalam suasana duka dalam cerita itu, dan dengan tidak disadari mereka mencucurkan air mata. Kemudian, kedua dokter ahli itu dan sejumlah pembantunya menampung air mata mereka. Lantas, memasukkannya ke dalam tabung-tabung yang berukuran kecil.

Tahap berikutnya, kedua dokter itu membandingkan (secara biokimia) antara air mata yang keluar murni –akibat sedih dan haru- dengan air mata yang ‘dipaksa’ dengan bawang dan manipulasi salah satu zat kimia. Dan ternyata dari hasil penelitiannya itu dapat memberikan jawaban bahwa ada perbedaan protein-protein yang dikandung oleh kedua jenis air mata tersebut. Dan bagaimanapun riset kedua dokter itu dianggap sebagai pembuka era baru untuk penelitian selanjutnya.

Penyimpangan kejiwaan
Kemudian, belakangan ini wanita dijadikan sentral riset kesehatan. Karena, pada abad yang modern seperti sekarang ini, kaum hawa tidak hanya punya peran sebagai faktor pendorong saja, tapi sekaligus memiliki kapasitas sebagai faktor pendukung terhadap mekanisme – urgensi atas segala kehidupan baik yang menyangkut (berlaku) dalam lingkup keluarga maupun melebar menjadi komunitas luas.

Kondisi seperti itu, seakan memaksa mereka lebih meninggikan tingkat agresifitasnya. Maka, kecenderungan penyimpangan kejiwaan makin tebal. Gejala semacam itu karena letupan ambisi yang dahsyat. Sehingga artritis rematoid ( salah satu penyakit ketegangan ) seolah menjadi merk tersendiri bagi wanita. Padahal sebenarnya, wanita cukup terlindung oleh hormon estrogen yang secara langsung memberikan tanda bahwa wanita lebih sehat jika dibanding kaum pria. Dan perolehan stres antara wanita yang satu dengan lainnya cukup fariatif. Akibat stres yang menimpa wanita, dapat pula berakibat figriditas – dingin terhadap daya rangsang seksual, menurunnya pengeluaran air susu, dan terhadap keturunan akan retan pada kecerdasannya (IQ), atau haidpun akan menyimpang dari daur yang sebenarnya ( tidak teratur ).

Dan yang lebih sering, walaupun tidak secara umum, stres yang menimpa kaum wanita ini biasanya saat mereka menjalani masa monopouse. Ini sangat berkaitan dengan faktor spikologis yaitu lebih perasa, takut tidak diperhatikan oleh suaminya, merasa sudah tua dan tidak cantik lagi, dan lain sebagainya. Faktor seperti ini seolah ikut serta mengantarkan artritis rematoit untuk bergolak hebat. Maka akibat yang ditimbulkannya akan dijadikan inceran bagi kanker urinogenital, mammae, hepatoma dan sebagainya.

Dan menurut catatan dari hasil riset yang pernah dilakukan oleh tim Laboratorium Pathologi pada National Cancer Institute Amerika Serikat, memberikan bukti yang bisa dipertanggung jawabkan, bahwa setiap harinya bahwa tumor ganas bisa menyebarkan ribuan sel yang bersifat kanker dan dapat mengisi kedalam jumlah jutaan sel. Ini yang seakan memberikan pintu lolos dari deteksi – saat dilakukan dengan sinar X, karena anak-anak sebar ( metastatis ), terkadang sumir bahkan sama dengan cairan tubuh. Sehingga dengan sangat leluasa anak sebar tersebut merembes pada bagian tubuh yang dirasa memiliki “wilayah “ yang dianggap subur untuk pertumbuhan kanker. Tetapi ada yang berpendapat bahwa metatatis akan bertahan lima sampai sepuluh tahun hinggap pada tubuh penderita. Padahal, dalam kenyataannya hanya selang waktu beberapa bulan saja anak sebar itu singgah, si penderita sudah tak dapat ditolong lagi. Dan metastatis cenderung lebih resisten terhadap obat-obatan ketika dilakukan kemoterapi.

Kemudian, permasalahannya sekarang, kendala yang dihadapi oleh para ahli onkologi yaitu sifat agresifitas metastasis yang terlampau kuat, dalam wilayah penyebarannya yang berpindah-pindah ke organ lain.

Maka, ketika anak sebar tersebut telah memasuki jaringan mikrokospik sangatlah sulit untuk dideteksi, dan keadaan ini telah mencapai angka 50 persen saja. Selebihnya, masih memiliki metastasis yang cukup jelas dan mudah terdeteksi oleh pemeriksaan fisik dan radiologi dalam diagnosa awal. Kendati begitu, para peneliti (ahli onkologi) dalam dua dasawarsa belakangan ini sudah memperoleh nafas lega terhadap keunikan sifat-sifat metastasis tersebut.

Dan secara tegas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO-World Health Organization) pernah mengabarkan, bahw kematian yang disebabkan serangan kanker mencapai angka tiga kali lebih tinggi ketimbang terjangkit penyakit jantung dalam setiap tahunnya. Dan dari sekian jenis kanker yang masih menduduki peringkat atas yaitu kanker paru-paru. Dan angka kasar telah memperlihatkan 257.000 orang yang mengidap penyakit tersebut, hanya 60.000 penderita yang berhasil diselamatkan untuk jangka waktu sementara.

Ini layak disebut sebagai angka kesembuhan sementara yang sangat menyedihkan. Bahkan, para peneliti yang tergabung dalam National Cancer Institute AS belum bisa memberikan semacam ‘lisensi’ terhadap obat-obatan yang benar-benar paten (dalam jangka waktu lama) untuk memberantas penyakit yang selalu menghantui setiap orang atau penderita.*****************

Semua orang pasti mengalami stress, tapi janganlah dikendalikan oleh stress sebaliknya kendalikanlah stress.



Tinggalkan Balasan